Beberapa
tahun belakangan ini, negeri kaya raya akan alamnya yaitu Indonesia mencoba
mencari cari letak karakteristik yang hilang hingga saat ini. Ketidakpercayaan
akan budaya menjadi tolak ukurnya. Saat ini, Indonesia terjebak pada “dunia
hitam” para konglomerat( para investor pasar) yang membabi buta dengan
memberikan stimulus berupa pengaruh budaya dan kecanggihan teknologi yang tidak
pernah di sadari efek sampingnya / tidak dapat di filter kegunaan serta
manfaatnya oleh manusia indonesia. Semua merupakan alur cerita yang sengaja
dibuat oleh para pemodal dalam mencari pasar serta cara membodohi negara-negara
berkembang seperti Indonesia ( kapitalisasi di negeri berkembang), serta ini
yang menjadi dampak dari globalisasi
dan modernisasi yang masuk secara
bebas tanpa batasan, dan masyarakat Indonesia dijadikan objek dari kecanggihan
teknologi yang serba instant dan budaya
yang menganjurkan atau mengedepankan hak asasi manusia sebagai pegangan hidup
tanpa memperhatikan kebersamaan antar manusia dan tolong menolong. Akan tetapi
beberapa point penting mulai dibenahi untuk menanggulangi itu semua yang
bermuara pada faktor faktor yang menjamin rakyat menjadi sejahtera. Pertama
perbaikan dari segi ekonomi, pemerintah dan masyarkat Indonesia mulai sadar
akan pentingnya ekonomi kerakyatan seperti adanya konsep pembangunan
pasar-pasar tradisional yang bersih, indah, dan nyaman sehingga tidak kalah dengan
minimarket modern , pemfokusan sektor pertanian dan perikanan dari pada
kegiatan industri, penciptaan home industry dan koperasi untuk rakyat. Kedua
dari segi pendidikan seperti penambahan jumlah guru dan peningkatan kualitas
guru, wajib belajar 9 tahun ,pembebasan manusia Indonesia dari buta huruf
hingga beasiswa bagi keluarga yang tidak mampu akan tetapi cerdas dan pintar.
Ketiga dari hukum yang kondisi perbaikannnya masih di ragukan ketegasannya
seperti adanya KPK (Komite Pemberantasan Korupsi), adanya peraturan tentang
tipikor(tindak pidana korupsi), undang undang minerba serta lahirnya peraturan
lainnya, yang menjunjung tinggi kekuatan
hukum di mata negara dan manusia Indonesia serta menyatakan bahwa Indonesia
adalah negara hukum. Semua itu adalah perubahan- perubahan yang didasari atas rasa iba manusia Indonesia terhadap
kondisi bangsanya. Semua itu dapat luntur, ketika manusia Indonesia yang berada
di semua lini pemerintahan di negeri ini yang menurut Drs.R.Dyatmiko
Soemodihardjo.SH.MHum Melakukkan hal yang merugikan bagi bangsanya sendiri
yaitu dengan melakukkan suap, korupsi dalam penentuan proyek, penganggaran
dana, pelalangan serta paling penting adalah pelaksanaan pembangunannya.
Hal
itulah yang menjadi point yang selalu didebatkan oleh para intelektual- intelektual
setelah titik awal pergerakkan perubahan di era reformasi 1998-2000. (
mahasiswa, ilmuwan, hingga budayawan). Retorika yang semu ini mereka mencoba
mencari-cari solusi untuk, memperbaiki keadaan bangsa ini dari pembodohan dan
perbudakkan serta, keluar dari belenggu kediktaktoran dunia hitam( kapitalisme
dan neoliberalisme). Mendengar kata-kata pembodohan dan perbudakkkan, para
intelektual muda sampai yang tua berlomba-lomba untuk mencapai impian bangsa
Indonesia yaitu, mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan alinea keempat
Undang Undang Dasar 1945, Inilah kontradiksi serta kenyataan pahit bagi manusia
indonesia yang harus diterima oleh Indonesia bahwa, Indonesia terlalu terlena
dengan pinjaman-pinjaman uang dan stimulus yang ditawarkan oleh para investor-investor
gila, yang mengejar kejayaan pribadi( investor dalam negeri ataupun luar).
Lalu
kemudian banyak orang bertanya pada republik yang merdeka selama 69 tahun ini.
Apakah salah bangsa ini yang sekian lama merdekanya menjadi sebuah Negara yang
berdaulat selama 69 tahun harus menerima begitu banyak investasi untuk
menanamkan namanya modal untuk membangun Negara ini.? Jawabannya adalah tidak, hari
ini indonesia adalah Negara yang berkembang dengan segudang kekayaan alamnya
dari ujung timur hingga ujung barat negeri ini. Janganlah manusia indonesia
antipati dengan namanya modal, investasi atau sebagainya. Akan tetapi sebagai
bangsa yang lahir dari nilai ke gotong-royongan dan keberagaman marilah manusia
indonesia hari ini harus antipati dengan namanya “dunia hitam” yang merusak hakekat manusia untuk bertahan hidup secara
bersama bukan secara manusia bebas yang tak pernah menghargai sesama manusia
lainnya. Seperti yang pernah diajarkan oleh bapak bangsa kita tentang nilai perjuangan
melawan namanya penindasan yang dialami selama 350 tahun. Diawali oleh kedatangan portugis pada tahun 1511, kemudian
spanyol, belanda(VOC), inggris , belanda hingga bangsa asia yang serakah jepang. Pada jaman penjajahan bangsa eropa dan asia ke Indonesia,
janganlah bangsa ini lupa akan kebangkitan awal dari negara ini ketika
organisasi para bangsawan Budi utomo lahir yang bercita-cita memerdekakan
bangsa ini di tahun 1908 serta organisasi lainya di tahun1908- 1927 hingga
muncullah namanya sumpah pemuda yang ditemani oleh lagu Indonesia raya. Pada titik
balik kepercayaan saat itu Nusantara atau negeri Hindia Belanda mulai membangun
kekuatan untuk mencoba melepas dari belenggu hitam yang mencekam (penindasan
secara berkala dari tahun 1600 hingga dapat memerdekakan bangsa ini di tahun
1945 khususnya pada 17 agustus secara pengakuan dari Negara lain dan 18 agustus
dari konstitusi/ segi hukumnya.
Itulah
era kebangkitan Indonesia yang selalu diperingati pada 20 mei, akan tetapi
semua artian itu telah mengalami degradasi dalam pemaknaan serta esensinya
mulai hilang dan terkikis, yang manusia indonesia tahu bahwa hanya sebatas itu
saja masyarakat Indonesia terhegemoni dan bereuforia terhadap hari bersejarah
bagi bangsanya. Hanya pemberian selamat layaknya ulang tahun akan tetapi
implementasi dari hari-hari berserjarah bangsa ini tidak pernah berlanjut
justru makin menurun bukan sejarah yang harus dipelajari akan tetapi kondisi
dan semangat membangun yang perlu ditingkatkan. Ini kenyataan yang harus segera diperbaiki oleh
bangsa ini mulai dari kalangan anak-anak,pemuda hingga masyarakat dewasa yang
semuanya merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang menurut monstequi bahwa
rakyat mempunyai kedaulatan yaitu teori kedaulatan rakyat. Kondisi bangsa yang
mulai keropos hari ini, menjadi Negara yang sering dijadikan kambing yang
digiring kemanapum tuan paduka yang memberi makan berada (negara indonesia hari
ini sedang menjadi negara yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan
perkonomian dan kesejateraan dari pemeran aktif di perekonomian dunia seperti
amerika dan sekutunya serta cina/tiongkok, jepang dan rusia). Contoh bantuan
itu berupa investasi investasi yang diatasnamakan proyek pembangunan seperti
pembangunan kereta cepat, pembangunan tempat untuk penelitian, pembangunan
jalan tol, dan lain sebagainya. Inilah keadaan ekonomi yang katanya para
petinggi petinggi Negara Indonesia “kita harus bangkit dari keterpurukan global
dan harus bisa berdiri dikaki sendiri”. Bangkit dari keterpurukan itu harus
dilakukkan agar Negara ini tidak seperti kambing “congek” yang harus bergantung pada penguasa ekonomi dunia.
Pembenahan di segala bidang harus segera dilakukkan dan selalu diawasi
penerapanya. Istilah malu dan takut harus diluruskan agar Negara berani untuk
menggertak di dalam negeri(kebijakan populis/kebijakan pro rakyat) atau diluar
negeri dengan membatasi datangnya arus deras yang merugikan untuk Negara
indonesia.
Beberapa
hal yang dikemukkan para guru besar bangsa yang sering terdengar di sebelah
kanan kiri telinga manusia Indonesia, hanya sebagai wacana semu yang penerepan
dan aplikasi dalam posisi sebenarnya(Indonesia saat ini) hanyalah sebuah impian
yang utopis. Lalu pertanyaan kedua dari manusia Indonesia bagaimana bisa Negara
yang begitu kaya raya alamnya sekarang tidak percaya diri ? tidak berani
bertarung konsep dengan Negara lain ? tidak berani mengungkap kebenaran diatas
penderitaan manusia di dunia ? lalu tersambung dengan pertanyaan yang lebih
menekankan bahwa manusia Indonesia takut dan lari tunggang langgang seperti
seorang “waria” yang dikejar kejar satpol pp. apakah hari ini, Besok , atau
Tahun yang akan datang Indonesia akan
bangkit dan menemukkan jati diri dan kepercayaan serta kejayaan dalam menjamin
masyarakat Indonesia sejahtera.? Jawabannya haruslah yakin seyakinnya bahwa
hari ini, kemarin Indonesia masih tertidur di siang dan malam hari seperti
seekor beruang yang lelah. Tapi hari ini esok dan mendatang Indonesia sudah
terbangun dari tidur dengan manusia manusia yang disebut dengan putra putri
bangsa ini. Putra putri bangsa Indonesia tidak akan lari dari ketakutan,
manusia Indonesia bukanlah manusia yang akal budi pekertinya bodoh dan malas,
manusia Indonesia bukanlah manusia yang hanya tinggal dan tidak mempunyai rasa
cinta tanah air.
Merubah
sesuatu yang sudah terlanjur kotor dan jelek terlihat agak sulit akan tetapi
mencoba untuk merubah adalah satu awalan contoh manusia Indonesia yang mulai belajar dan beranjak akan masa depan bangsa
ini, yang merdeka selama 69 tahun lamanya. Segala kebijakan yang buruk akan
segera tergantikan dengan yang baik apabila manusia Indonesia mempunyai rasa
yang satu, mempunyai semangat yang sama, mempunyai nilai moral pada diri
sendiri dan pada bangsa ini. Semangat nilai akan kegotong royongan, kebhineka
tunggal ika harus tertanam di setiap insan manusia Indonesia dengan semangat
itu akan menjadikan Indonesia menjadi lebih baik dengan memahami makna dari
semua ini. Tentang keterpurukan bangsa dan alam yang mulai habis digerogoti
oleh manusia manusia yang bertangan usil. Saat ini mulailah Indonesia harus
menjadi Negara yang mempunyai manusia berani untuk mengungkapkan kebenaran
karena didalam diri manusia terdapat sebuah nurani untuk berkata jujur untuk
bilang stop “exploitation
de l’homme par l’homme” penghisapan manusia oleh manusia dengan
alasan apapun termasuk memperkaya diri sendiri, ingatlah para bapak bangsa ini
berkata untuk manusia Indonesia salinglah menghargai , menghormati , dan saling
menjaga satu diantara manusia satu dengan yang lainya. Indonesia akan berkarya
dengan manusia Indonesia humanis yang tak pernah kenal dengan kompromi atas
pembodohan. ( Harapan Manusia Indonesia Untuk Indonesia).