Sunday, 1 June 2014

“MANUSIA INDONESIA BERHARAP INDONESIA BERJAYA DI GELAPNYA DUNIA”



Beberapa tahun belakangan ini, negeri kaya raya akan alamnya yaitu Indonesia mencoba mencari cari letak karakteristik yang hilang hingga saat ini. Ketidakpercayaan akan budaya menjadi tolak ukurnya. Saat ini, Indonesia terjebak pada “dunia hitam” para konglomerat( para investor pasar) yang membabi buta dengan memberikan stimulus berupa pengaruh budaya dan kecanggihan teknologi yang tidak pernah di sadari efek sampingnya / tidak dapat di filter kegunaan serta manfaatnya oleh manusia indonesia. Semua merupakan alur cerita yang sengaja dibuat oleh para pemodal dalam mencari pasar serta cara membodohi negara-negara berkembang seperti Indonesia ( kapitalisasi di negeri berkembang), serta ini yang menjadi dampak dari globalisasi dan modernisasi yang masuk secara bebas tanpa batasan, dan masyarakat Indonesia dijadikan objek dari kecanggihan teknologi yang serba  instant dan budaya yang menganjurkan atau mengedepankan hak asasi manusia sebagai pegangan hidup tanpa memperhatikan kebersamaan antar manusia dan tolong menolong. Akan tetapi beberapa point penting mulai dibenahi untuk menanggulangi itu semua yang bermuara pada faktor faktor yang menjamin rakyat menjadi sejahtera. Pertama perbaikan dari segi ekonomi, pemerintah dan masyarkat Indonesia mulai sadar akan pentingnya ekonomi kerakyatan seperti adanya konsep pembangunan pasar-pasar tradisional yang bersih, indah, dan nyaman sehingga tidak kalah dengan minimarket modern , pemfokusan sektor pertanian dan perikanan dari pada kegiatan industri, penciptaan home industry dan koperasi untuk rakyat. Kedua dari segi pendidikan seperti penambahan jumlah guru dan peningkatan kualitas guru, wajib belajar 9 tahun ,pembebasan manusia Indonesia dari buta huruf hingga beasiswa bagi keluarga yang tidak mampu akan tetapi cerdas dan pintar. Ketiga dari hukum yang kondisi perbaikannnya masih di ragukan ketegasannya seperti adanya KPK (Komite Pemberantasan Korupsi), adanya peraturan tentang tipikor(tindak pidana korupsi), undang undang minerba serta lahirnya peraturan lainnya, yang  menjunjung tinggi kekuatan hukum di mata negara dan manusia Indonesia serta menyatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Semua itu adalah perubahan- perubahan yang didasari atas rasa iba manusia Indonesia terhadap kondisi bangsanya. Semua itu dapat luntur, ketika manusia Indonesia yang berada di semua lini pemerintahan di negeri ini yang menurut Drs.R.Dyatmiko Soemodihardjo.SH.MHum Melakukkan hal yang merugikan bagi bangsanya sendiri yaitu dengan melakukkan suap, korupsi dalam penentuan proyek, penganggaran dana, pelalangan serta paling penting adalah pelaksanaan pembangunannya. 
Hal itulah yang menjadi point yang selalu didebatkan oleh para intelektual- intelektual setelah titik awal pergerakkan perubahan di era reformasi 1998-2000. ( mahasiswa, ilmuwan, hingga budayawan). Retorika yang semu ini mereka mencoba mencari-cari solusi untuk, memperbaiki keadaan bangsa ini dari pembodohan dan perbudakkan serta, keluar dari belenggu kediktaktoran dunia hitam( kapitalisme dan neoliberalisme). Mendengar kata-kata pembodohan dan perbudakkkan, para intelektual muda sampai yang tua berlomba-lomba untuk mencapai impian bangsa Indonesia yaitu, mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan alinea keempat Undang Undang Dasar 1945, Inilah kontradiksi serta kenyataan pahit bagi manusia indonesia yang harus diterima oleh Indonesia bahwa, Indonesia terlalu terlena dengan pinjaman-pinjaman uang dan stimulus yang ditawarkan oleh para investor-investor gila, yang mengejar kejayaan pribadi( investor dalam negeri ataupun luar).
Lalu kemudian banyak orang bertanya pada republik yang merdeka selama 69 tahun ini. Apakah salah bangsa ini yang sekian lama merdekanya menjadi sebuah Negara yang berdaulat selama 69 tahun harus menerima begitu banyak investasi untuk menanamkan namanya modal untuk membangun Negara ini.? Jawabannya adalah tidak, hari ini indonesia adalah Negara yang berkembang dengan segudang kekayaan alamnya dari ujung timur hingga ujung barat negeri ini. Janganlah manusia indonesia antipati dengan namanya modal, investasi atau sebagainya. Akan tetapi sebagai bangsa yang lahir dari nilai ke gotong-royongan dan keberagaman marilah manusia indonesia hari ini harus antipati dengan namanya “dunia hitam” yang merusak hakekat manusia untuk bertahan hidup secara bersama bukan secara manusia bebas yang tak pernah menghargai sesama manusia lainnya. Seperti yang pernah diajarkan oleh bapak bangsa kita tentang nilai perjuangan melawan namanya penindasan yang dialami selama 350 tahun. Diawali oleh kedatangan portugis pada tahun 1511, kemudian spanyol, belanda(VOC), inggris , belanda hingga bangsa asia yang serakah jepang. Pada jaman penjajahan bangsa eropa dan asia ke Indonesia, janganlah bangsa ini lupa akan kebangkitan awal dari negara ini ketika organisasi para bangsawan Budi utomo lahir yang bercita-cita memerdekakan bangsa ini di tahun 1908 serta organisasi lainya di tahun1908- 1927 hingga muncullah namanya sumpah pemuda yang ditemani oleh lagu Indonesia raya. Pada titik balik kepercayaan saat itu Nusantara atau negeri Hindia Belanda mulai membangun kekuatan untuk mencoba melepas dari belenggu hitam yang mencekam (penindasan secara berkala dari tahun 1600 hingga dapat memerdekakan bangsa ini di tahun 1945 khususnya pada 17 agustus secara pengakuan dari Negara lain dan 18 agustus dari konstitusi/ segi hukumnya.
Itulah era kebangkitan Indonesia yang selalu diperingati pada 20 mei, akan tetapi semua artian itu telah mengalami degradasi dalam pemaknaan serta esensinya mulai hilang dan terkikis, yang manusia indonesia tahu bahwa hanya sebatas itu saja masyarakat Indonesia terhegemoni dan bereuforia terhadap hari bersejarah bagi bangsanya. Hanya pemberian selamat layaknya ulang tahun akan tetapi implementasi dari hari-hari berserjarah bangsa ini tidak pernah berlanjut justru makin menurun bukan sejarah yang harus dipelajari akan tetapi kondisi dan semangat membangun yang perlu ditingkatkan.  Ini kenyataan yang harus segera diperbaiki oleh bangsa ini mulai dari kalangan anak-anak,pemuda hingga masyarakat dewasa yang semuanya merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang menurut monstequi bahwa rakyat mempunyai kedaulatan yaitu teori kedaulatan rakyat. Kondisi bangsa yang mulai keropos hari ini, menjadi Negara yang sering dijadikan kambing yang digiring kemanapum tuan paduka yang memberi makan berada (negara indonesia hari ini sedang menjadi negara yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan perkonomian dan kesejateraan dari pemeran aktif di perekonomian dunia seperti amerika dan sekutunya serta cina/tiongkok, jepang dan rusia). Contoh bantuan itu berupa investasi investasi yang diatasnamakan proyek pembangunan seperti pembangunan kereta cepat, pembangunan tempat untuk penelitian, pembangunan jalan tol, dan lain sebagainya. Inilah keadaan ekonomi yang katanya para petinggi petinggi Negara Indonesia “kita harus bangkit dari keterpurukan global dan harus bisa berdiri dikaki sendiri”. Bangkit dari keterpurukan itu harus dilakukkan agar Negara ini tidak seperti kambing “congek” yang harus bergantung pada penguasa ekonomi dunia. Pembenahan di segala bidang harus segera dilakukkan dan selalu diawasi penerapanya. Istilah malu dan takut harus diluruskan agar Negara berani untuk menggertak di dalam negeri(kebijakan populis/kebijakan pro rakyat) atau diluar negeri dengan membatasi datangnya arus deras yang merugikan untuk Negara indonesia.
Beberapa hal yang dikemukkan para guru besar bangsa yang sering terdengar di sebelah kanan kiri telinga manusia Indonesia, hanya sebagai wacana semu yang penerepan dan aplikasi dalam posisi sebenarnya(Indonesia saat ini) hanyalah sebuah impian yang utopis. Lalu pertanyaan kedua dari manusia Indonesia bagaimana bisa Negara yang begitu kaya raya alamnya sekarang tidak percaya diri ? tidak berani bertarung konsep dengan Negara lain ? tidak berani mengungkap kebenaran diatas penderitaan manusia di dunia ? lalu tersambung dengan pertanyaan yang lebih menekankan bahwa manusia Indonesia takut dan lari tunggang langgang seperti seorang “waria” yang dikejar kejar satpol pp. apakah hari ini, Besok , atau Tahun yang akan datang  Indonesia akan bangkit dan menemukkan jati diri dan kepercayaan serta kejayaan dalam menjamin masyarakat Indonesia sejahtera.? Jawabannya haruslah yakin seyakinnya bahwa hari ini, kemarin Indonesia masih tertidur di siang dan malam hari seperti seekor beruang yang lelah. Tapi hari ini esok dan mendatang Indonesia sudah terbangun dari tidur dengan manusia manusia yang disebut dengan putra putri bangsa ini. Putra putri bangsa Indonesia tidak akan lari dari ketakutan, manusia Indonesia bukanlah manusia yang akal budi pekertinya bodoh dan malas, manusia Indonesia bukanlah manusia yang hanya tinggal dan tidak mempunyai rasa cinta tanah air. 
Merubah sesuatu yang sudah terlanjur kotor dan jelek terlihat agak sulit akan tetapi mencoba untuk merubah adalah satu awalan contoh manusia Indonesia yang mulai  belajar dan beranjak akan masa depan bangsa ini, yang merdeka selama 69 tahun lamanya. Segala kebijakan yang buruk akan segera tergantikan dengan yang baik apabila manusia Indonesia mempunyai rasa yang satu, mempunyai semangat yang sama, mempunyai nilai moral pada diri sendiri dan pada bangsa ini. Semangat nilai akan kegotong royongan, kebhineka tunggal ika harus tertanam di setiap insan manusia Indonesia dengan semangat itu akan menjadikan Indonesia menjadi lebih baik dengan memahami makna dari semua ini. Tentang keterpurukan bangsa dan alam yang mulai habis digerogoti oleh manusia manusia yang bertangan usil. Saat ini mulailah Indonesia harus menjadi Negara yang mempunyai manusia berani untuk mengungkapkan kebenaran karena didalam diri manusia terdapat sebuah nurani untuk berkata jujur untuk bilang stop exploitation de l’homme par l’hommepenghisapan manusia oleh manusia dengan alasan apapun termasuk memperkaya diri sendiri, ingatlah para bapak bangsa ini berkata untuk manusia Indonesia salinglah menghargai , menghormati , dan saling menjaga satu diantara manusia satu dengan yang lainya. Indonesia akan berkarya dengan manusia Indonesia humanis yang tak pernah kenal dengan kompromi atas pembodohan. ( Harapan Manusia Indonesia Untuk Indonesia).