Hanya
menyapa 100. sebuah pertemuan singkat padat dan sedikit tidak jelas,
perpektifku berbicara mereka malu-malu dan jual mahal. Itulah awal pertemuan
kami. Sejenak kami semua berkenalan di belakang patung trio wekwek universitas
jember Atau apalah namanya. Kami berbicara
asal dan fakultas. Terasa asing dan jaim (jaga images) itulah pertama kami
jumpa. Kami berkenalan seperti anak-anak
mahasiswa yang baru masuk kuliah di perguruan tinggi. Kami berbicara tidak
penting sebenarnya. Dan kami semua adalah korban lpm(lembaga pemberdayaan
masyarakat) universitas jember yang memaksa kami masuk dalam program kkn dan
bertemu dengan namanya 100. 100 nama kelompok yang luar “binasa” yang beranggotakan 10 terdiri dari 4 laki-laki dan 6
perempuan itupun kalo tidak ada yang berubah kelaminnya. Diawali dengan nama
sapaan yang pertama dikenal dengan nama luluk kemudian ada ria, dita,lelia, ika,rizal,deny,nana,bijak,
dan terakhir dika. Semua mahasiswa unej dari fakulutas kedokteran
gigi,ekonomi,mipa,fisip,sastra, hukum serta ftp. Kami mencoba berkomunikasi
mengenal dan memahami sifat dan watak ,agar kami terbiasa untuk 1 bulan
setengah didaerah yang sama dalam satu naungan yaitu kelompok 100.
Kelompok
100 adalah nama kelompok dengan urutan paling sempurna, karena dilihat dari
filosofinya 100 sebuah angka sempurna dalam hitungan 1-99 yang paling akhir dan
menutup kesempurnaan. Ya, itulah 100. Lalu, apa semua bisa menjamin
kesempurnaan dalam menjalankan visi dan misi dari KKN(Kuliah Kerja Nyata). semua
pasti belum yakin akan itu tapi yang diyakini adalah berusaha untuk masuk dan
memaknai kata dari kelompok 100. Harapannya saja sederhana agar kelompok 100 ini
bisa bermanfaat untuk masyarkat kedepannya. Seperti kata dari seorang mahatma
gandhi tentang “memanusiakan manusia”. Jadi manusiakanlah semua manusia seperti
manusia bukan hewan atau ilalang yang tumbuh di depan rumah. Kelompok 100
menjadi sebuah keluarga dalam tawanan perang yang siap diberantakkan dalam
sekejap dengan sifat dan sikap yang saling menghakimi nantinya ketika semua
dihadapkan dengan sifat ke egoisan, komunikasi yang kurang mengenakkan atau
karena ketidaksukaan sifat. Tapi pointnya kita semua harus saling memahami dan
membuat nyaman kelompok itu sendiri. Jika menurut mocthar lubis dalam bukunya
manusia indonesia “janganlah menjadi manusia indonesia yang munafik, Segan, Cepat
Cemburu/dengki,dan yang terakhir watak yang lemah”. Itulah pesan dari mochtar
lubis untuk kelompok 100. Dan akhirnya
semua harus disapa dengan 100. Hehehe.
Salam kenal untuk semua semoga tulisan yang kurang sempurna ini bisa di terima
dalam sisi yang baik dan buruk.