Sunday, 1 November 2015

Celoteh 03.56




           Sejenak terlepas dari beban sebagai mahasiswa tingkat akhir dalam mengerjakan tugas akhir / skripsi. Serta dukungan ujung mata yang tak kunjung memejamkan kelopaknya ini. Saya dan mereka meyakini Sebagai manusia biasa, semua pasti berpikir tentang kehidupannya di masa depan. Tak lepas itu juga berpikir akan dosa dan kematian. Hidup yang keras juga membuat trauma dan ketakutan pada diri sendiri untuk melangkah. Dipermalukan dari masalah, dicaci maki akan kesalahan, dijauhi karena kebodohan. Hal itu terlihat suram, bahkan seperti tak ada masa depan.
            Kali ini semua terlihat sia-sia, meskipun saya dan mereka hanya melakukkan onani wacana dengan mendengarkan ceramah nasional dari bangku SD-Perkuliahan, dan berceloteh tentang isi dunia (wanita / pria, harta, tahta ). Mensyukuri setiap waktu yang diberi oleh sang pencipta terlihat begitu didewakan, bukan karena usaha tetapi hanyalah sugesti belaka untuk menghindari ketidakmungkinan. Itu prinsip, untuk menjaga agar manusia terlihat semangat.
              Dari cerita singkat berujung panjang, dari gosip menuju polemik, dari solusi menjadi konflik. Semua terlihat membingungkan dan buram. Orang bilang mengatakan “Hidup Tak Semudah gaya bicaranya mario teguh”. Ini lelucon, atau aliran negatif dari alur beripikir yang telihat mundur. Hingga  presiden kita beserta jajarannya bicara lebar tentang “revolusi mental”. Perubahan mendasar akan pola pikir dan watak. Yang setiap hari dijanjikan akan perubahan mental dan semangat dalam merubah hidup. Terasa semuanya mengalami degaradasi dalam kemauan untuk maju, faktornya terlihat sederhana. Melihat kenyataan dan tatanan hidup ukuran yang layak. Membuat semua orang berpikir sederhana,dan ketika jatuh jarang sekali untuk memulai hal yang baru. Jadi semua yang ditulis adalah celoteh pagi di tanggal 2 november 2015 pukul 03.56 WIB tentang efek mata yang ingin menutup mata tetapi belum bisa.

Sunday, 11 October 2015

Ucapkan Kata-Katamu ~ Wijdi Thukul


jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan
apa maumu terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian


jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu
jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan

Thursday, 8 October 2015

Kau Iblis Dunia Yang Menawan

    Semenjak hadir dalam ruang dan waktu, seisi zat dalam tubuh menjelma menjadi kaku. Waktu berganti dalam sajak manis hari ini. sajak yang menceritakan tentang hegemonial dunia. Kau dan aku. Kisah yang lama kutunggu kala itu. Ketika berpapasan langsung dengan mengenal wajah dan suara. Pertemuan yang berlanjut hingga suara-suara merdu merayu. Semacam nilai materialsme yang terkandung dalam tubuh mulai meningkat kedalam pikiran. begitu juga kau. Yang semakin merayu sendu dalam balutan baju memukau. 

    Senyum manja kau tawarkan dengan tulus, dengan pembicaraan yang begitu mesra. kulihat kau dalam balutan yang sangat menggoda. Dalam batinku, inikah yang disebut nafsu birahi. Seperti yang ada di panggung-panggung besar antara kau dan aku. orang-orang yang disekeliling dianggap tiada, tinggal pembicaraan yang mesra. kau tawarkan segudang impian di lanjutan hari. kemudian kau tawarkan godaan-godaan yang membuatku tertarik untuk melecuti bajuku sendiri. 

    Pikiranku kala itu hilang ketika kau menawarkan godaan yang tidak bisa dihindari. Kau membungkus secara rapi permainan yang kau ingini. kali ini aku terjebak pada permainanmu. Pada nilai tawarmu yang secara implisit mulai merasuk tanpa terpikirkan dampak yang akan timbul dari hubungan antara kau dan aku. Banyak "anjing-anjing" kecil menggongongi hubungan antara kau dan aku. 

   Kemudian hari ketika aku mulai bosan dengan balutan pakaianmu. Kau memaksa terus untuk menikmatinya. Kau paksa terus hati nurani yang mulai tergerus. Kau paksa terus untuk melihat dan memakaimu hingga hari mulai berganti. Kau yang mempengaruhiku untuk tidak memperdulikan "anjing-anjing" kecil yang gonggongannya semakin keras. Bahkan kau memaksaku untuk membunuh gonggongan itu dengan serdadu yang kumiliki.Kubunuh anjing-anjing itu. Darah yang mengalir dari anjing-anjing itu membuat kau tertawa.

     Setelah kusadari dan mengetahui tentang kau. Aku berusaha melepaskan ikatanmu dariku. Semua sudah terlanjur terjadi. Aku sudah berusaha lepas dari ikatanmu ,tapi wajahmu yang elok terus menghantuiku. Kau seperti magnet yang terus menarik bagi kehidupanku. karena kau pintar dan cerdas. Kau masukkanku dalam perangkap dan kau mainkanku dengan memanggil serdadumu yang lebih menggoda. Kusadari kau adalah Iblis dunia yang menghantuiku. Kau tertawa terbahak-bahak ketika kau mulai memberikan candu itu. hegemonial dunia ternyata yang membuatmu begitu menarik. Kau bagaikan malaikat penolong bagi kehidupanku. Nyatanya kau adalah iblis. iblis yang berpenyakitan. 

     Ternyata kusalah menilai kau. kukira dalam sajak ini hanya kau dan aku. Ternyata masih ada mereka korban-korban yang bermunculan. Kau jebak sebegitu elok dan memukau dengan balutan pakaianmu yang menawan. Aku menjadi tawananmu hari ini. Iblis dunia kunamai kau kapitalis, serdadu-serdadu perangmu kunamai World Bank dan IMF. Aku dan mereka adalah remaja yang berbentuk negara berkembang.Aku dan mereka yang kau ikat dalam duniamu yang keji. Iblis penyakit.

Tuesday, 19 May 2015

Hanya Menyapa 100




Hanya menyapa 100. sebuah pertemuan singkat padat dan sedikit tidak jelas, perpektifku berbicara mereka malu-malu dan jual mahal. Itulah awal pertemuan kami. Sejenak kami semua berkenalan di belakang patung trio wekwek universitas jember  Atau apalah namanya. Kami berbicara asal dan fakultas. Terasa asing dan jaim (jaga images) itulah pertama kami jumpa.  Kami berkenalan seperti anak-anak mahasiswa yang baru masuk kuliah di perguruan tinggi. Kami berbicara tidak penting sebenarnya. Dan kami semua adalah korban lpm(lembaga pemberdayaan masyarakat) universitas jember yang memaksa kami masuk dalam program kkn dan bertemu dengan namanya 100. 100 nama kelompok yang luar “binasa” yang beranggotakan 10 terdiri dari 4 laki-laki dan 6 perempuan itupun kalo tidak ada yang berubah kelaminnya. Diawali dengan nama sapaan yang pertama dikenal dengan nama luluk kemudian ada ria, dita,lelia, ika,rizal,deny,nana,bijak, dan terakhir dika. Semua mahasiswa unej dari fakulutas kedokteran gigi,ekonomi,mipa,fisip,sastra, hukum serta ftp. Kami mencoba berkomunikasi mengenal dan memahami sifat dan watak ,agar kami terbiasa untuk 1 bulan setengah didaerah yang sama dalam satu naungan yaitu kelompok 100.
Kelompok 100 adalah nama kelompok dengan urutan paling sempurna, karena dilihat dari filosofinya 100 sebuah angka sempurna dalam hitungan 1-99 yang paling akhir dan menutup kesempurnaan. Ya, itulah 100. Lalu, apa semua bisa menjamin kesempurnaan dalam menjalankan visi dan misi dari KKN(Kuliah Kerja Nyata). semua pasti belum yakin akan itu tapi yang diyakini adalah berusaha untuk masuk dan memaknai kata dari kelompok 100. Harapannya saja sederhana agar kelompok 100 ini bisa bermanfaat untuk masyarkat kedepannya. Seperti kata dari seorang mahatma gandhi tentang “memanusiakan manusia”. Jadi manusiakanlah semua manusia seperti manusia bukan hewan atau ilalang yang tumbuh di depan rumah. Kelompok 100 menjadi sebuah keluarga dalam tawanan perang yang siap diberantakkan dalam sekejap dengan sifat dan sikap yang saling menghakimi nantinya ketika semua dihadapkan dengan sifat ke egoisan, komunikasi yang kurang mengenakkan atau karena ketidaksukaan sifat. Tapi pointnya kita semua harus saling memahami dan membuat nyaman kelompok itu sendiri. Jika menurut mocthar lubis dalam bukunya manusia indonesia “janganlah menjadi manusia indonesia yang munafik, Segan, Cepat Cemburu/dengki,dan yang terakhir watak yang lemah”. Itulah pesan dari mochtar lubis untuk kelompok 100. Dan akhirnya  semua harus disapa dengan 100.  Hehehe. Salam kenal untuk semua semoga tulisan yang kurang sempurna ini bisa di terima dalam sisi yang baik dan buruk.

Thursday, 5 March 2015

KEPALSUAN



Kulihat orang orang mondar mandir
Mencari kesibukkan diri dalam lampu kota yang terang
Melihat dengan seksama apa yang mereka bingungkan dalam hidup

Ternyata bukan dosa melainkan harta dalam bayang. 
Hari ini pula kulihat mereka yang berteriak teriak di jalanan untuk kebenaran
Hari ini pula kulihat mereka yang dengan serius membaca kata dan makna

Kita babu negara yang di pekerjakkan layaknya tahanan.
Orang miskin tak bisa makan,dan berobat jika tak bekerja
Mereka membicarakan kemanusiaan yang hilang dari peradaban
Mereka sibuk dengan urusan teknologi dan kemajuan jaman

Ini kenyataan yang dibungkus rapi dengan hadiah dari pemerintah
Televisi dibungkam dengan uang, media dibungkus dengan segudang sponsor
Radio sibuk menggembor gemborkan lagu tentang kesenangan

Inilah hari dimana kita semua terbungkus dan terkotak-kotak oleh kepentingan hidup.
Idealisme tertunda oleh tugas-tugas yang diberikan seorang diktator dosen, kami memberontak
Dengan dasar kebenaran tapi tak di dengarkan justru di hilangkan

kami berbicara tentang rakyat jelata yang berakpun harus di sungai yang kotor oleh limbah,
kami tak menyadari hari ini ketika semua tau akan kebenaran hakiki,
semua harus melihat ke jalan, kampus dan birokrasi bahwa kita sebenarnya adalah pekerja dunia
yang sengaja atau tidaknya mendirikan tiang tiang kesombongan dan keserakahan

dunia menjebak kita pada nilai-nilai harga yang membungkus harga diri.
Semua terasa asli tapi semua hanya kepalsuan dalam panggung untuk menonjolkan diri sendiri

Monday, 23 February 2015

Nyayian Alam Dalam Ketertindasan

larut malam menjelang pagi, sajak kering kerontang menuai pujian
Hari menuai hinaan, memuai bagai uap yang dipanaskan.
wahai belahan dunia yang melihatku menjadi terang
inilah cahaya keagungan yang kuberikan.

Kredit macet tak mengenal arah dan tujuan
gubuk gubuk kecil menaikkan angan-angan
sembari lautan biru mengguncang kedamaian
guntur dan halilintar menyambar bumi

manusia hadir dalam pelukan sang dewa
diberikan segudang peluru untuk melawan
tapi tak digunakan untuk melawan
peluru itu justru membunuh para saudara dan teman- temannya

inilah manusia yang dibentuk oleh dewa.
alat vital digunakkan untuk membunuh, mencabik cabik mangsa 
ibarat hewan hewan liar yang sedang kelaparan.
manusia manusia berdosa mulai dilahirkan.

alam mulai bosan akan ketidakpastian
kemunafikkan membela manusia berdosa
hari ini hukum sedang lelah
menuai kritik dan hinaan setiap permunculannya

lalu apa yang bisa dilawan?
semua menjadi  setengah dewa atas kesombongan
semua menjadi setengah dewa atas ketiadaaan
semua menjadi setengah dewa atas keadilan

manusia atau sistem atau aturan yang dilawan kawan?
guntur menhancurkan awan dan petir menghancurkan tumbuhan
apa yang harus dilawan ?
semua menjadi bisu dan diam tanpa arah untuk melawan

terjadi ketidaksadaran dalam kehidupan
semua menjadi kemakluman karena manusia hanya setengah dewa.
setengah dewa  bukanlah dewa keagungan
bergeraklah kawan lawan penindasan seperti awan dan petir yang mengguncang.

~ Bukan Tulisan Terakhir~



Sekejap mata tergugah untuk melihat dunia, tepat pada alam ini yang mengunggah kebebasan dalam keseharian. Berawal dari cerita tentang kebersamaan, permusuhan , hingga romantika cinta. Tentang konflik- konflik kecil yang terekspos oleh beberapa diksi kata yang popular hingga diksi kata kedaerahan. Ini sebuah kalimat dan paragraf awal untuk memulai tulisan tentang sebuah perjalanan kehidupan, alunan lagupun terdengar begitu riang, nyayian alam bersuara kencang seperti contoh hujan dan angin serta suara haliltar menyambar. Tayangan televisi dan radio mulai bergema pada ujung dini hari hingga berputar pada lain waktu. Kehidupan malam dan pagi selalu berbeda untuk mewarnai dunia ini, retorika dan dinamika sosial juga mengawali hari dengan konflik-konflik yang terjadi di dunia, dibelahan asia, afrika, eropa maupun di australia, republik indonesia mulai mengawali harinya dengan konflik dan cerita manusia menjadi hewan.
Republik Indonesia sebuah negara dibagian asia khususnya di asia tenggara, yang mempunyai begitu padat merayapnya manusia,flora dan faunanya, terungkap dari belahan dunia lainnya tentang keindahan, tentang hal-hal mistis yang orang lain tidak mengerti akan tetapi percaya akan kehidupannya. Begitu dinamisnya sebuah republik itu. Kini semua itu menjadi subyek kata untuk mewarnai imajinasi yang berutopia dalam penulisan. Bercerita kemudian awal-awal kehidupan seperti teori darwin yang mengatakan awal dari manusia adalah kera yang berevolusi kemudian beberapa kitab suci membantah teori itu bahwa semua itu adalah ciptaan Tuhan,Allah,ataupun dewa serta roh roh suci yang memberikan nafas kehidupan, tapi itu menjadi tidak masalah biarkan itu semua berubah seakan apa yang dianut manusia dalam konteks pemikirannya. Semakin kreatif dan imanjiatif dalam pewarnaan hidup. Semakin jauh dan cerdas pemikiran- pemikiran dalam  menuangkan kata-kata dalam perumusan sebuah cerita, pandangan tentang pejuangan dunia juga menggambarkan satu cerita tidak satupun orang bisa menghentikan laju sebuah tulisan atau kata, manusia diliahrikan untuk menggunakan semua alat vitalnya untuk kebaikkan(menurut kitab suci) akan tetapi layaknya adam dan hawa yang mengawali dosa-dosa manusia begitupun dengan  regenerasi berikutnya yang menjadi bahan pembahasan yang berbelit-belit dan ujungnya berakhir dengan satu pernyataan, para ulama-ulama dunia menyubutnya dengan “ Itu perbuatan Dosa”. Penilaian klasik dalam pembatas kehidupan manusia, karena begitu banyak pertentangan dan pembenaran atas sebuah nilai yang diagungkan.
Tulisan ini hanyalah sebuah pewarnaan kekosongan yang menghiasi senja pada sore hari, dikala suara hujan begitu indah dengan suara gema awan yang bergetar dan membuat efek berkepanjangan seperti perlombaan marathon bagi manusia manusia liar . sebagian juga menikmati hujan senja dengan secangkir kopi serta sebungkus batang rokok untuk menikmatinya,sebagian juga mengeluh karena kelaparan, beberapa lainnya bersikap skeptis karena pekerjaaan yang harus diselesaikan itulah efek berkepanjangan. Layaknya sebuah gubug di tengah sawah, tulisan atau kata kata yang di ucapakan lalu dituliskan manusia bisa saja menjadi sebuah gambaran akan ketenangan, kesejeukan, dan kebosanan. Akan tetapi semua itu terasa menarik jika hal tersebut menjadi sebuah prosa atau dialog yang membuat para pembaca dan pendengar menikmati dan menjadikannya sebuah referensi cerita. Berawal dari ide dalam pikiran atau hal yang nyata nampak dalam pancaindera digunakan sebagai bahan tulisan serta kata yang membuat para penulis-penulis handal seperti buya hamka, pramoedya ananta toer, jostein gaardner hingga raditya dika menuangkannya dan menjadi idola idola baru dalam menggambarkan jendela dunia. Dan semua itu menarik perhatian hingga akhir jaman sebuah tulisan tidak akan terhenti oleh kata-kata yang terucap dari mulut meskipun itu dibungkam oleh seutas tali atau kain. Semua manusia dapat bercerita melalui tulisan karena sebuah tulisan tidak akan pernah berakhir kecuali sang penulis kembali dan bepulang serta menjadi debu-debu kehidupan layaknya roh –roh yang dipuja puji oleh manusia yang tak jelas asal usulnya dan wujudnya. Berterima kasihlah para penulis kepada Pohon,Batu,manusia,alam semesta hingga hal yang tak dapat dilihat oleh mata dan tidak majemuk dalam pembahasan orang awam, terima kasihlah penulis untuk para dewa-dewi kehidupan,para manusia yang menjadi binatang, para hewan yang sekarang menjadi idola makhluk agung, para tumbuhan atau tanaman yang tumbuh subur dan menjadi begitu cantik. Semua itu adalah gambaran nyata yang menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk menulis pengalamannya, petualangan atau gambaran utopia yang tidak tau kapan bisa diwujudkan. Satu hal yang harus diyakini adalah sebuah cita-cita atau pikiran utopia begitu menyenangkan dari pada realita.