Sejenak
terlepas dari beban sebagai mahasiswa tingkat akhir dalam mengerjakan tugas
akhir / skripsi. Serta dukungan ujung mata yang tak kunjung memejamkan
kelopaknya ini. Saya dan mereka meyakini Sebagai manusia biasa, semua pasti
berpikir tentang kehidupannya di masa depan. Tak lepas itu juga berpikir akan
dosa dan kematian. Hidup yang keras juga membuat trauma dan ketakutan pada diri
sendiri untuk melangkah. Dipermalukan dari masalah, dicaci maki akan kesalahan,
dijauhi karena kebodohan. Hal itu terlihat suram, bahkan seperti tak ada masa
depan.
Kali
ini semua terlihat sia-sia, meskipun saya dan mereka hanya melakukkan onani
wacana dengan mendengarkan ceramah nasional dari bangku SD-Perkuliahan, dan
berceloteh tentang isi dunia (wanita / pria, harta, tahta ). Mensyukuri setiap
waktu yang diberi oleh sang pencipta terlihat begitu didewakan, bukan karena
usaha tetapi hanyalah sugesti belaka untuk menghindari ketidakmungkinan. Itu
prinsip, untuk menjaga agar manusia terlihat semangat.
Dari
cerita singkat berujung panjang, dari gosip menuju polemik, dari solusi menjadi
konflik. Semua terlihat membingungkan dan buram. Orang bilang mengatakan “Hidup
Tak Semudah gaya bicaranya mario teguh”. Ini lelucon, atau aliran negatif dari
alur beripikir yang telihat mundur. Hingga presiden kita beserta jajarannya bicara lebar
tentang “revolusi mental”. Perubahan mendasar akan pola pikir dan watak. Yang
setiap hari dijanjikan akan perubahan mental dan semangat dalam merubah hidup.
Terasa semuanya mengalami degaradasi dalam kemauan untuk maju, faktornya
terlihat sederhana. Melihat kenyataan dan tatanan hidup ukuran yang layak.
Membuat semua orang berpikir sederhana,dan ketika jatuh jarang sekali untuk
memulai hal yang baru. Jadi semua yang ditulis adalah celoteh pagi di tanggal 2
november 2015 pukul 03.56 WIB tentang efek mata yang ingin menutup mata tetapi
belum bisa.