Tinggal sebuah kenangan yang rapuh. memori indah akan kenangan semasa SMA seolah hilang dalam pikiranku. sejenak aku berpikir, ketika proses dialektika ini menjadi satu ruang aku menjalin sebuah problematika kesendirian, dalam kenangan itu terukir masa-masa SMA di SMA Katolik untung Suropati Sidoarjo. ketika kulepas dengan bangga seragam sekolahku dan menuju tahap selanjutnya yaitu bangku kuliah. rasa bangga itu hilang beberapa saat ketika pertemeuan terakhirku dengan kawan-kawanku yang tak terelakkkan.
Masa-masa penuh kenangan di sekolah itu, membuat rasa rindu ini kembali muncul dan membuai bagaikan bunga yang siap di petik. tulisan romantispun tak bisa menggambarkan rasa ingin bertemu dengan kawan kawan lama di sidoarjo.
Teringat khususnya Di kelas IPS II memori indah itu muncul akan kebodohan-kebodohan dalam mencari jati diri, dalam mencari indahnya kehidupan. memori kembali meluncur deras ketika ku ingat nama-nama kawanku sekaligus kuanggap sebagai sobat ataupun sahabat dekat. inilah nama kawanku yang ku ingat betul di dalam memori otakku : keket,ucil,daniel henry,darkem, pin-pin, pontoh, bayu kopler, adimas, fony, reven, kucing, jack, che-che, ting ting, yohanes, mariana ,gaby, dan teman teman yang lain yang tak dapat kusebutkan satu persatu... kalian semua tetap menjadi satu kesatuan yang utuh yang selalu kuingat dalam memori otakku yang kecil ini.
semoga kenangan yang kutuliskan ini bisa membuatku sedikit merasa lega jikalau aku tak dapat bertemu dengan kalian suatu saat nanti dan tulisan ini hanyalah sedikit perantara rasa kangen, haru, tawa , dan sebuah senyuman indah kalian yang tak akan terlepas dari sebuah memori otakku.
HAHAHHA... :D
Tulisanlah yang menggantikanku untuk berbicara, karena tulisan tidak bisa dibungkam seperti mulut.
Saturday, 23 June 2012
Tuesday, 19 June 2012
Ego dan individualis
publikasi perbuatan belum tentu menjadi sebuah acuan dasar dalam berproses. ketika kesalahan kesalahan tidak menemukan titik terang maka terjadilah embrio embrio keputusasaan yang sengaja dan tidak sengaja timbul dalam diri serta akan mempengaruhi sebuah idealis seseorang. tipikal yang berbeda membuat sebuah dinamika ataupun gejolak terjadi. entah itu mencakup hal baik ataupun flow up yang stagnan. kecenderungan memakai emosi sering terjadi seiiring gejolak gejolak dinamika itu bermunculan. saling menjatuhkan salling menuding bahkan saling menghancurkan merupakan dinamika yang sering terjadi ketika gejolak ataupun dinamika itu tidak dapat diredam . kekecewaan dalam hati membuat tekad seorang menjadi lunak sehingga sulit jikalau tekad itu luntur secara perlahan. seleksi alam menjadi acuan terakhir dalam melihat itu.
kembali kedalam dunia yag carut marut. tingkat keegoisan tidak terlalu urgent bahkan orang saat ini berasumsi, jika individualism adalah hal yang wajar di dunia. ketika semua berasumsi demikian maka secara tidak langsung dunia ini tidak akan bisa bertahan lama dengan sikap demikian. manusia memang wajar jika memliki tingkat ke egoisan namun alangkah baiknya jika tingkat ke egosian itu dapat dikendalikan.
sulit rasanya jika kita menengok ke arah globalisasi yang sekarang terjadi. manusia tetap menjadi manusia berfikir akan tetapi manusia ,bukan lagi manusia yang berakhlak jadi tidak salah sebagian orang yang mampu mengkritisi dirinya sendiri adalah manusia yang mampu mengkrtik orang lain. seperti hanya ular yang saling memakan satu dengan yang lainya. hal ini mempertegas bahwa sebuah asumsi yang seperti demikan timbul dari sebuah realita yang sesunggguhnya terjadi.
Tuesday, 5 June 2012
Budidayakan Namanya Pasar Tradisional
kicauan burung berterbangan sama dengan cibiran masyarakat kecil yang mencibir habis habisan para investor minimarket. ketika desakkan hidup melonjak satu persatu menjadi kelimpungan atau kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan dalih penambahan Tenaga kerja Minimarket berdiri tegak dalam dunia global ini . pemerintah bersikap apatis akan kasus ini. padahal secara jelas kedatangan minimarket yang berjejer setiap kota akan membunuh pasar-pasar tradisonal. ini bukan hanya sebuah teori saja, akan tetapi ini adalah kenyataan hidup atau realita yang sebenarnya.
Di kabupaten jember, provinsi Jawa Timur. kota paling pojok jawa timur ini mempunyai minimarket begitu banyak sekitar 137 minimarket di kota Jember. Sangat mengerikan di kota yang tidak terlalu besar ini minimarket dapat berdiri hingga 137 minimarket hal itu membuat para pedagang-pedagang yang ada di sekitaran jember ini menjadi gulung tikar atau mengalami penurunan omset. Jarak yang berdekatan antar minimarket membuat pedagang-pedagang klontong tidak percaya diri karena beberapa faktor:
1. karena faktor pelayanannya kurang memuaskan
2. karena faktor kebersihan.
3. karena faktor perbandingan tempat yang sedikit bagus.
oleh karena itu sedikit menyedihkan Pemerintah daerah jember yang membiarkan maraknya minimarket. Mungkin karena pasar bebas ? ya benar inilah efek atau dampak negatif dari pasar bebas yang salah diartikan oleh pemerintah. Pasar bebas yang sudah kelewatan namanya, jika pasar bebas ini terus memonopoli arus perdagangan Indonesia. Di Jember , para pedagang merasa pasrah karena mereka sudah tidak mampu menyaingi minimarket yang sudah terlalu menjamur di sekiling daerah jember. Perbandingan antara minimarket dan pedagang kelontong 75 : 25 . Mana peran Pemerintah daerah kota jember ? jawabannya adalah mereka akan menunggu momentum yang tepat untuk menggalakan namnya Perda yang seolah mereka akan menjadi pahlawan kesiangan yang hanya ingin di puji oleh masayrakat ( pedagang klontong ).
Di kabupaten jember, provinsi Jawa Timur. kota paling pojok jawa timur ini mempunyai minimarket begitu banyak sekitar 137 minimarket di kota Jember. Sangat mengerikan di kota yang tidak terlalu besar ini minimarket dapat berdiri hingga 137 minimarket hal itu membuat para pedagang-pedagang yang ada di sekitaran jember ini menjadi gulung tikar atau mengalami penurunan omset. Jarak yang berdekatan antar minimarket membuat pedagang-pedagang klontong tidak percaya diri karena beberapa faktor:
1. karena faktor pelayanannya kurang memuaskan
2. karena faktor kebersihan.
3. karena faktor perbandingan tempat yang sedikit bagus.
oleh karena itu sedikit menyedihkan Pemerintah daerah jember yang membiarkan maraknya minimarket. Mungkin karena pasar bebas ? ya benar inilah efek atau dampak negatif dari pasar bebas yang salah diartikan oleh pemerintah. Pasar bebas yang sudah kelewatan namanya, jika pasar bebas ini terus memonopoli arus perdagangan Indonesia. Di Jember , para pedagang merasa pasrah karena mereka sudah tidak mampu menyaingi minimarket yang sudah terlalu menjamur di sekiling daerah jember. Perbandingan antara minimarket dan pedagang kelontong 75 : 25 . Mana peran Pemerintah daerah kota jember ? jawabannya adalah mereka akan menunggu momentum yang tepat untuk menggalakan namnya Perda yang seolah mereka akan menjadi pahlawan kesiangan yang hanya ingin di puji oleh masayrakat ( pedagang klontong ).
sudah terlalu basi, jikalau mereka ingin di anggap pahlawan kesiangan . sekarang bagaimana mengembalikkan fungsi pasar tradisional seperti semula, dengan daya tarik yang berbeda , dengan mutu lebih baik dari pada minimarket. itu semua adalah tanggung jawab pemerintah untuk mengamodasikan atau memfasiltasi rakyat dalam berdagang. agar masyarakat yang lain tidak bersikap pragmatis dalam menjalani hidup ini. sedikit pembahasan tentang minimarket dan pasar tradisonal , kaum pemodal VS pedagang kelontong.
Subscribe to:
Posts (Atom)