kicauan burung berterbangan sama dengan cibiran masyarakat kecil yang mencibir habis habisan para investor minimarket. ketika desakkan hidup melonjak satu persatu menjadi kelimpungan atau kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan dalih penambahan Tenaga kerja Minimarket berdiri tegak dalam dunia global ini . pemerintah bersikap apatis akan kasus ini. padahal secara jelas kedatangan minimarket yang berjejer setiap kota akan membunuh pasar-pasar tradisonal. ini bukan hanya sebuah teori saja, akan tetapi ini adalah kenyataan hidup atau realita yang sebenarnya.
Di kabupaten jember, provinsi Jawa Timur. kota paling pojok jawa timur ini mempunyai minimarket begitu banyak sekitar 137 minimarket di kota Jember. Sangat mengerikan di kota yang tidak terlalu besar ini minimarket dapat berdiri hingga 137 minimarket hal itu membuat para pedagang-pedagang yang ada di sekitaran jember ini menjadi gulung tikar atau mengalami penurunan omset. Jarak yang berdekatan antar minimarket membuat pedagang-pedagang klontong tidak percaya diri karena beberapa faktor:
1. karena faktor pelayanannya kurang memuaskan
2. karena faktor kebersihan.
3. karena faktor perbandingan tempat yang sedikit bagus.
oleh karena itu sedikit menyedihkan Pemerintah daerah jember yang membiarkan maraknya minimarket. Mungkin karena pasar bebas ? ya benar inilah efek atau dampak negatif dari pasar bebas yang salah diartikan oleh pemerintah. Pasar bebas yang sudah kelewatan namanya, jika pasar bebas ini terus memonopoli arus perdagangan Indonesia. Di Jember , para pedagang merasa pasrah karena mereka sudah tidak mampu menyaingi minimarket yang sudah terlalu menjamur di sekiling daerah jember. Perbandingan antara minimarket dan pedagang kelontong 75 : 25 . Mana peran Pemerintah daerah kota jember ? jawabannya adalah mereka akan menunggu momentum yang tepat untuk menggalakan namnya Perda yang seolah mereka akan menjadi pahlawan kesiangan yang hanya ingin di puji oleh masayrakat ( pedagang klontong ).
Di kabupaten jember, provinsi Jawa Timur. kota paling pojok jawa timur ini mempunyai minimarket begitu banyak sekitar 137 minimarket di kota Jember. Sangat mengerikan di kota yang tidak terlalu besar ini minimarket dapat berdiri hingga 137 minimarket hal itu membuat para pedagang-pedagang yang ada di sekitaran jember ini menjadi gulung tikar atau mengalami penurunan omset. Jarak yang berdekatan antar minimarket membuat pedagang-pedagang klontong tidak percaya diri karena beberapa faktor:
1. karena faktor pelayanannya kurang memuaskan
2. karena faktor kebersihan.
3. karena faktor perbandingan tempat yang sedikit bagus.
oleh karena itu sedikit menyedihkan Pemerintah daerah jember yang membiarkan maraknya minimarket. Mungkin karena pasar bebas ? ya benar inilah efek atau dampak negatif dari pasar bebas yang salah diartikan oleh pemerintah. Pasar bebas yang sudah kelewatan namanya, jika pasar bebas ini terus memonopoli arus perdagangan Indonesia. Di Jember , para pedagang merasa pasrah karena mereka sudah tidak mampu menyaingi minimarket yang sudah terlalu menjamur di sekiling daerah jember. Perbandingan antara minimarket dan pedagang kelontong 75 : 25 . Mana peran Pemerintah daerah kota jember ? jawabannya adalah mereka akan menunggu momentum yang tepat untuk menggalakan namnya Perda yang seolah mereka akan menjadi pahlawan kesiangan yang hanya ingin di puji oleh masayrakat ( pedagang klontong ).
sudah terlalu basi, jikalau mereka ingin di anggap pahlawan kesiangan . sekarang bagaimana mengembalikkan fungsi pasar tradisional seperti semula, dengan daya tarik yang berbeda , dengan mutu lebih baik dari pada minimarket. itu semua adalah tanggung jawab pemerintah untuk mengamodasikan atau memfasiltasi rakyat dalam berdagang. agar masyarakat yang lain tidak bersikap pragmatis dalam menjalani hidup ini. sedikit pembahasan tentang minimarket dan pasar tradisonal , kaum pemodal VS pedagang kelontong.
No comments:
Post a Comment