Tuesday, 19 May 2015

Hanya Menyapa 100




Hanya menyapa 100. sebuah pertemuan singkat padat dan sedikit tidak jelas, perpektifku berbicara mereka malu-malu dan jual mahal. Itulah awal pertemuan kami. Sejenak kami semua berkenalan di belakang patung trio wekwek universitas jember  Atau apalah namanya. Kami berbicara asal dan fakultas. Terasa asing dan jaim (jaga images) itulah pertama kami jumpa.  Kami berkenalan seperti anak-anak mahasiswa yang baru masuk kuliah di perguruan tinggi. Kami berbicara tidak penting sebenarnya. Dan kami semua adalah korban lpm(lembaga pemberdayaan masyarakat) universitas jember yang memaksa kami masuk dalam program kkn dan bertemu dengan namanya 100. 100 nama kelompok yang luar “binasa” yang beranggotakan 10 terdiri dari 4 laki-laki dan 6 perempuan itupun kalo tidak ada yang berubah kelaminnya. Diawali dengan nama sapaan yang pertama dikenal dengan nama luluk kemudian ada ria, dita,lelia, ika,rizal,deny,nana,bijak, dan terakhir dika. Semua mahasiswa unej dari fakulutas kedokteran gigi,ekonomi,mipa,fisip,sastra, hukum serta ftp. Kami mencoba berkomunikasi mengenal dan memahami sifat dan watak ,agar kami terbiasa untuk 1 bulan setengah didaerah yang sama dalam satu naungan yaitu kelompok 100.
Kelompok 100 adalah nama kelompok dengan urutan paling sempurna, karena dilihat dari filosofinya 100 sebuah angka sempurna dalam hitungan 1-99 yang paling akhir dan menutup kesempurnaan. Ya, itulah 100. Lalu, apa semua bisa menjamin kesempurnaan dalam menjalankan visi dan misi dari KKN(Kuliah Kerja Nyata). semua pasti belum yakin akan itu tapi yang diyakini adalah berusaha untuk masuk dan memaknai kata dari kelompok 100. Harapannya saja sederhana agar kelompok 100 ini bisa bermanfaat untuk masyarkat kedepannya. Seperti kata dari seorang mahatma gandhi tentang “memanusiakan manusia”. Jadi manusiakanlah semua manusia seperti manusia bukan hewan atau ilalang yang tumbuh di depan rumah. Kelompok 100 menjadi sebuah keluarga dalam tawanan perang yang siap diberantakkan dalam sekejap dengan sifat dan sikap yang saling menghakimi nantinya ketika semua dihadapkan dengan sifat ke egoisan, komunikasi yang kurang mengenakkan atau karena ketidaksukaan sifat. Tapi pointnya kita semua harus saling memahami dan membuat nyaman kelompok itu sendiri. Jika menurut mocthar lubis dalam bukunya manusia indonesia “janganlah menjadi manusia indonesia yang munafik, Segan, Cepat Cemburu/dengki,dan yang terakhir watak yang lemah”. Itulah pesan dari mochtar lubis untuk kelompok 100. Dan akhirnya  semua harus disapa dengan 100.  Hehehe. Salam kenal untuk semua semoga tulisan yang kurang sempurna ini bisa di terima dalam sisi yang baik dan buruk.

No comments:

Post a Comment