Thursday, 2 January 2014

“Desa Paseban tempat terakhir korban tiupan itu dan teriakkannya terlalu membendung banyak dinding sang pengarah di tahun yang indah”




Sepanjang hari kemarin merupakan hari yang menyejukkan karena kota jember ini selalu diguyur hujan di tiap malam hingga pagi hari kembali. Entah musim apakah ini yang menentramkan jiwa. Akan tetapi langit selalu tidak bersahabat dengan kaum muda yang bergejolak pada tahun yang sejuk ini. Berhenti setiap nadi yang ingin memaksakan kehendaknya untuk menikmati indahnya kota jember di tahun yang indah tahun yang penuh harapan. Sekarang setelah 3 tahun merasakan sejuknya kota jember, kini tersadar alunan jeritan yang menggoncang tak pernah didengar oleh sang waktu ataupun oleh sang pengarah.

Usaha menjadi sia-sia jika hari demi hari waktu hingga berganti tahun kami harus menjadi kota kecil yang bergemuruh pada malam dan siang. Kota jember mulai kehabisan kata untuk mematik simpati. Inikah kota jember. Inikah kota harapan, inikah kota kejujuran. Banyak masalah yang tidak terselesaikan cobalah tengok apa yang akan dilakukkan oleh sang pengarah dalam membaca situasi yang makin memburuk tanpa arti dan membusuk dalam lubang hitam dan pahit. 

Kemarin hujan dan suara gemuruh diatas langit menandakkan bahwa di tahun yang indah adalah pertanda dari sang Pencipta untuk segera merubuhkan menara kesombongan diantara dinding-dinding sang pengarah. Betapa miris dan tragis hidup dalam realita di kota tercinta jember ini. Disisi bukit indah rembangan terlihat begitu banyak muda mudi bahkan keluarga yang menikmati pemandangan dan berpesta di malam tahun baru kemarin akan tetapi di ujung selatan di daerah kencong, puger, gumukmas. Begitu ribut dan kacau karena tahun baru tidak senikmat biasanya. Bencana banjir penyebabnya bukan karena sampah atau kubangan yang buntu faktornya akan tetapi alam dan pemerintah yang tidak bersahabat nampaknya. Warga terasa bingung dan pusing ketika malam hari di tahun yang baru yang seharusnya mereka harus berdiri dan beranjak untuk meniup terompet dan petasan haruslah redup karena mereka harus dan bangun untuk bergotong royong dengan keluarga ataupun tetangga dalam mengangkat perabotan rumah tangga yang nantinya tersapu banjir. 

          Alam memang terlalu kejam apa sang pengarah yang kejam karena tidak melihat dimana letak mereka dan keluarga mereka serta pangan, sandang dan papan yang sederhana jika tersapu. Alam tidak pernah pandang bulu memang jika sudah begini. Tapi apa setiap kali hujan selalu begini banjir dan banjir. Lihatlah aliran  sungai yang terus menjebol tanah atau lapisan yang dibuat. Ataukah sang penguasa yang tak pernah melihat setiap tahunnya. Atau moment inilah yang akan membuat mereka inginkan agar kelak menjadi sang pahlawan di tengah- tengah daun yang telah gugur. Bodoh dan tidak bergerak kota jember. Bukan kota jember namanya ini, jika tidak terlihat imbang. Inilah Indonesia yang selalu membuat perbedaan yang mencolok antara kota dan pelosok. Negeri dengan bunyi sila ke 5 yang menggambarkan “keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Hanya sebatas motto ataupun ungkapan kata yang tidak pernah dilakukkan oleh sang pengarah. Keadilan atau bantuan sosial negeri ini. Ungkap salah satu politisi sekaligus orang nomer 2 di Provinsi DKI Jakarta yang selalu dan wajib di ingat yaitu “AHOK”. Ya Indonesia hanya Negara dengan segala embel-embel negeri sosial tapi nyataya terlalu sosial hingga tak ada namanya keadilan sosial ataukah negeri dengan segudang keadilan tapi hanya untuk beberapa orang yang mempunyai kuasa untuk menguasai kepentingan. 

           Kembali ke jember dan desa yang diselimuti ketakutan ketika banjir. Desa itu bernama Paseban. Desa dengan kekayaan alam pasir besi dan lautnya itu nyatanya masih keropos jika dilihat dari jauh. Tak usah muluk-muluk untuk membahas tambang pasir besi tapi bahaslah sengsaranya warga disana yang selalu meminta belas kasih bantuan, padahal kategori desa paseban cukup subur tanahnya dan alamnyapun cukup menolong mereka akan tetapi mereka selalu berteriak tiap tahunnya untuk memohon bantuan. Bangsa Indonesia bukan bangsa yang meminta-minta akan tetapi yang mau usaha, bukan itu yang selalu di bicarakan oleh para budayawan dari cerita cerita rakyat jaman dulu ”nenek moyang”. Ya, tapi nasib dan jaman yang merubahnya ketamakkan sang pengarah, yang membuat perih dan luka disetiap goresan dalam perbuatan. Cukup jika sadar bukan lagi bantuan tapi ini adalah keadilan seharusnya hidup mereka sudah mandiri tapi gara-gara bangunan satu yang membuatnya langsung runtuh dan tak bergerak yang membuat warga paseban harus terdiam dan terus meminta bantuan untuk belas kasih sumbangan dana. Bukan itu tapi bangunlah pondasi atau alur yang baru untuk menghindari banjir itu sang pengara mereka bukan pengemis. Mereka adalah korbanmu yang harusnya menjadi kaya karena alamnya justru sekarang miskin karena moral dan tanahnya dirusak oleh sang pengarah. Bangun penyebab tanggul yang jebol itu dengan pondasi atau segera buat alur pembuangan air banjir yang lain agar tidak hanya 1 ttik saja yang dilalui untuk pembuangan air banjir ke laut langsung. Teriakkan ini yang harus terdengar oleh banyaknya dinding dindingmu sang pengara “jember”. Kota indah  tidak perlu bagus dan menyentuh kota indah itu perlu keadilan yang merata untuk semua orang yang tinggal bukan satu kepentingan melainkan semua kepentingan.

No comments:

Post a Comment