Sepanjang
hari kemarin merupakan hari yang menyejukkan karena kota jember ini selalu
diguyur hujan di tiap malam hingga pagi hari kembali. Entah musim apakah ini
yang menentramkan jiwa. Akan tetapi langit selalu tidak bersahabat dengan kaum
muda yang bergejolak pada tahun yang sejuk ini. Berhenti setiap nadi yang ingin
memaksakan kehendaknya untuk menikmati indahnya kota jember di tahun yang indah
tahun yang penuh harapan. Sekarang setelah 3 tahun merasakan sejuknya kota
jember, kini tersadar alunan jeritan yang menggoncang tak pernah didengar oleh
sang waktu ataupun oleh sang pengarah.
Usaha
menjadi sia-sia jika hari demi hari waktu hingga berganti tahun kami harus menjadi
kota kecil yang bergemuruh pada malam dan siang. Kota jember mulai kehabisan
kata untuk mematik simpati. Inikah kota jember. Inikah kota harapan, inikah
kota kejujuran. Banyak masalah yang tidak terselesaikan cobalah tengok apa yang
akan dilakukkan oleh sang pengarah dalam membaca situasi yang makin memburuk
tanpa arti dan membusuk dalam lubang hitam dan pahit.
Kemarin
hujan dan suara gemuruh diatas langit menandakkan bahwa di tahun yang indah
adalah pertanda dari sang Pencipta untuk segera merubuhkan menara kesombongan
diantara dinding-dinding sang pengarah. Betapa miris dan tragis hidup dalam
realita di kota tercinta jember ini. Disisi bukit indah rembangan terlihat
begitu banyak muda mudi bahkan keluarga yang menikmati pemandangan dan berpesta
di malam tahun baru kemarin akan tetapi di ujung selatan di daerah kencong,
puger, gumukmas. Begitu ribut dan kacau karena tahun baru tidak senikmat
biasanya. Bencana banjir penyebabnya bukan karena sampah atau kubangan yang
buntu faktornya akan tetapi alam dan pemerintah yang tidak bersahabat
nampaknya. Warga terasa bingung dan pusing ketika malam hari di tahun yang baru
yang seharusnya mereka harus berdiri dan beranjak untuk meniup terompet dan
petasan haruslah redup karena mereka harus dan bangun untuk bergotong royong
dengan keluarga ataupun tetangga dalam mengangkat perabotan rumah tangga yang
nantinya tersapu banjir.
Alam
memang terlalu kejam apa sang pengarah yang kejam karena tidak melihat dimana
letak mereka dan keluarga mereka serta pangan, sandang dan papan yang sederhana
jika tersapu. Alam tidak pernah pandang bulu memang jika sudah begini. Tapi apa
setiap kali hujan selalu begini banjir dan banjir. Lihatlah aliran sungai yang terus menjebol tanah atau lapisan
yang dibuat. Ataukah sang penguasa yang tak pernah melihat setiap tahunnya. Atau
moment inilah yang akan membuat mereka inginkan agar kelak menjadi sang
pahlawan di tengah- tengah daun yang telah gugur. Bodoh dan tidak bergerak kota
jember. Bukan kota jember namanya ini, jika tidak terlihat imbang. Inilah Indonesia
yang selalu membuat perbedaan yang mencolok antara kota dan pelosok. Negeri dengan
bunyi sila ke 5 yang menggambarkan “keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Hanya
sebatas motto ataupun ungkapan kata yang tidak pernah dilakukkan oleh sang
pengarah. Keadilan atau bantuan sosial negeri ini. Ungkap salah satu politisi
sekaligus orang nomer 2 di Provinsi DKI Jakarta yang selalu dan wajib di ingat
yaitu “AHOK”. Ya Indonesia hanya Negara dengan segala embel-embel negeri sosial
tapi nyataya terlalu sosial hingga tak ada namanya keadilan sosial ataukah
negeri dengan segudang keadilan tapi hanya untuk beberapa orang yang mempunyai
kuasa untuk menguasai kepentingan.
Kembali
ke jember dan desa yang diselimuti ketakutan ketika banjir. Desa itu bernama
Paseban. Desa dengan kekayaan alam pasir besi dan lautnya itu nyatanya masih
keropos jika dilihat dari jauh. Tak usah muluk-muluk untuk membahas tambang
pasir besi tapi bahaslah sengsaranya warga disana yang selalu meminta belas
kasih bantuan, padahal kategori desa paseban cukup subur tanahnya dan
alamnyapun cukup menolong mereka akan tetapi mereka selalu berteriak tiap
tahunnya untuk memohon bantuan. Bangsa Indonesia bukan bangsa yang
meminta-minta akan tetapi yang mau usaha, bukan itu yang selalu di bicarakan
oleh para budayawan dari cerita cerita rakyat jaman dulu ”nenek moyang”. Ya,
tapi nasib dan jaman yang merubahnya ketamakkan sang pengarah, yang membuat
perih dan luka disetiap goresan dalam perbuatan. Cukup jika sadar bukan lagi
bantuan tapi ini adalah keadilan seharusnya hidup mereka sudah mandiri tapi
gara-gara bangunan satu yang membuatnya langsung runtuh dan tak bergerak yang
membuat warga paseban harus terdiam dan terus meminta bantuan untuk belas kasih
sumbangan dana. Bukan itu tapi bangunlah pondasi atau alur yang baru untuk menghindari
banjir itu sang pengara mereka bukan pengemis. Mereka adalah korbanmu yang
harusnya menjadi kaya karena alamnya justru sekarang miskin karena moral dan
tanahnya dirusak oleh sang pengarah. Bangun penyebab tanggul yang jebol itu
dengan pondasi atau segera buat alur pembuangan air banjir yang lain agar tidak
hanya 1 ttik saja yang dilalui untuk pembuangan air banjir ke laut langsung. Teriakkan
ini yang harus terdengar oleh banyaknya dinding dindingmu sang pengara “jember”.
Kota indah tidak perlu bagus dan
menyentuh kota indah itu perlu keadilan yang merata untuk semua orang yang
tinggal bukan satu kepentingan melainkan semua kepentingan.
No comments:
Post a Comment