Monday, 23 February 2015

~ Bukan Tulisan Terakhir~



Sekejap mata tergugah untuk melihat dunia, tepat pada alam ini yang mengunggah kebebasan dalam keseharian. Berawal dari cerita tentang kebersamaan, permusuhan , hingga romantika cinta. Tentang konflik- konflik kecil yang terekspos oleh beberapa diksi kata yang popular hingga diksi kata kedaerahan. Ini sebuah kalimat dan paragraf awal untuk memulai tulisan tentang sebuah perjalanan kehidupan, alunan lagupun terdengar begitu riang, nyayian alam bersuara kencang seperti contoh hujan dan angin serta suara haliltar menyambar. Tayangan televisi dan radio mulai bergema pada ujung dini hari hingga berputar pada lain waktu. Kehidupan malam dan pagi selalu berbeda untuk mewarnai dunia ini, retorika dan dinamika sosial juga mengawali hari dengan konflik-konflik yang terjadi di dunia, dibelahan asia, afrika, eropa maupun di australia, republik indonesia mulai mengawali harinya dengan konflik dan cerita manusia menjadi hewan.
Republik Indonesia sebuah negara dibagian asia khususnya di asia tenggara, yang mempunyai begitu padat merayapnya manusia,flora dan faunanya, terungkap dari belahan dunia lainnya tentang keindahan, tentang hal-hal mistis yang orang lain tidak mengerti akan tetapi percaya akan kehidupannya. Begitu dinamisnya sebuah republik itu. Kini semua itu menjadi subyek kata untuk mewarnai imajinasi yang berutopia dalam penulisan. Bercerita kemudian awal-awal kehidupan seperti teori darwin yang mengatakan awal dari manusia adalah kera yang berevolusi kemudian beberapa kitab suci membantah teori itu bahwa semua itu adalah ciptaan Tuhan,Allah,ataupun dewa serta roh roh suci yang memberikan nafas kehidupan, tapi itu menjadi tidak masalah biarkan itu semua berubah seakan apa yang dianut manusia dalam konteks pemikirannya. Semakin kreatif dan imanjiatif dalam pewarnaan hidup. Semakin jauh dan cerdas pemikiran- pemikiran dalam  menuangkan kata-kata dalam perumusan sebuah cerita, pandangan tentang pejuangan dunia juga menggambarkan satu cerita tidak satupun orang bisa menghentikan laju sebuah tulisan atau kata, manusia diliahrikan untuk menggunakan semua alat vitalnya untuk kebaikkan(menurut kitab suci) akan tetapi layaknya adam dan hawa yang mengawali dosa-dosa manusia begitupun dengan  regenerasi berikutnya yang menjadi bahan pembahasan yang berbelit-belit dan ujungnya berakhir dengan satu pernyataan, para ulama-ulama dunia menyubutnya dengan “ Itu perbuatan Dosa”. Penilaian klasik dalam pembatas kehidupan manusia, karena begitu banyak pertentangan dan pembenaran atas sebuah nilai yang diagungkan.
Tulisan ini hanyalah sebuah pewarnaan kekosongan yang menghiasi senja pada sore hari, dikala suara hujan begitu indah dengan suara gema awan yang bergetar dan membuat efek berkepanjangan seperti perlombaan marathon bagi manusia manusia liar . sebagian juga menikmati hujan senja dengan secangkir kopi serta sebungkus batang rokok untuk menikmatinya,sebagian juga mengeluh karena kelaparan, beberapa lainnya bersikap skeptis karena pekerjaaan yang harus diselesaikan itulah efek berkepanjangan. Layaknya sebuah gubug di tengah sawah, tulisan atau kata kata yang di ucapakan lalu dituliskan manusia bisa saja menjadi sebuah gambaran akan ketenangan, kesejeukan, dan kebosanan. Akan tetapi semua itu terasa menarik jika hal tersebut menjadi sebuah prosa atau dialog yang membuat para pembaca dan pendengar menikmati dan menjadikannya sebuah referensi cerita. Berawal dari ide dalam pikiran atau hal yang nyata nampak dalam pancaindera digunakan sebagai bahan tulisan serta kata yang membuat para penulis-penulis handal seperti buya hamka, pramoedya ananta toer, jostein gaardner hingga raditya dika menuangkannya dan menjadi idola idola baru dalam menggambarkan jendela dunia. Dan semua itu menarik perhatian hingga akhir jaman sebuah tulisan tidak akan terhenti oleh kata-kata yang terucap dari mulut meskipun itu dibungkam oleh seutas tali atau kain. Semua manusia dapat bercerita melalui tulisan karena sebuah tulisan tidak akan pernah berakhir kecuali sang penulis kembali dan bepulang serta menjadi debu-debu kehidupan layaknya roh –roh yang dipuja puji oleh manusia yang tak jelas asal usulnya dan wujudnya. Berterima kasihlah para penulis kepada Pohon,Batu,manusia,alam semesta hingga hal yang tak dapat dilihat oleh mata dan tidak majemuk dalam pembahasan orang awam, terima kasihlah penulis untuk para dewa-dewi kehidupan,para manusia yang menjadi binatang, para hewan yang sekarang menjadi idola makhluk agung, para tumbuhan atau tanaman yang tumbuh subur dan menjadi begitu cantik. Semua itu adalah gambaran nyata yang menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk menulis pengalamannya, petualangan atau gambaran utopia yang tidak tau kapan bisa diwujudkan. Satu hal yang harus diyakini adalah sebuah cita-cita atau pikiran utopia begitu menyenangkan dari pada realita.

No comments:

Post a Comment