Monday, 23 February 2015

Nyayian Alam Dalam Ketertindasan

larut malam menjelang pagi, sajak kering kerontang menuai pujian
Hari menuai hinaan, memuai bagai uap yang dipanaskan.
wahai belahan dunia yang melihatku menjadi terang
inilah cahaya keagungan yang kuberikan.

Kredit macet tak mengenal arah dan tujuan
gubuk gubuk kecil menaikkan angan-angan
sembari lautan biru mengguncang kedamaian
guntur dan halilintar menyambar bumi

manusia hadir dalam pelukan sang dewa
diberikan segudang peluru untuk melawan
tapi tak digunakan untuk melawan
peluru itu justru membunuh para saudara dan teman- temannya

inilah manusia yang dibentuk oleh dewa.
alat vital digunakkan untuk membunuh, mencabik cabik mangsa 
ibarat hewan hewan liar yang sedang kelaparan.
manusia manusia berdosa mulai dilahirkan.

alam mulai bosan akan ketidakpastian
kemunafikkan membela manusia berdosa
hari ini hukum sedang lelah
menuai kritik dan hinaan setiap permunculannya

lalu apa yang bisa dilawan?
semua menjadi  setengah dewa atas kesombongan
semua menjadi setengah dewa atas ketiadaaan
semua menjadi setengah dewa atas keadilan

manusia atau sistem atau aturan yang dilawan kawan?
guntur menhancurkan awan dan petir menghancurkan tumbuhan
apa yang harus dilawan ?
semua menjadi bisu dan diam tanpa arah untuk melawan

terjadi ketidaksadaran dalam kehidupan
semua menjadi kemakluman karena manusia hanya setengah dewa.
setengah dewa  bukanlah dewa keagungan
bergeraklah kawan lawan penindasan seperti awan dan petir yang mengguncang.

No comments:

Post a Comment